Kembali Pada Keluarga

Kita diciptakan untuk menerima dan membagi kasih sayang. Pencipta sudah menyediakan wadah terbaik untuk kita mendapatkannya, keluarga. Di sanalah Allah meletakkan dasar cinta dalam hati manusia.

Dalam beberapa tulisan ditemukan bahwa individu yang dibesarkan dengan kasih sayang jauh lebih sehat secara mental dan lebih sukses dalam membangun karier dan keluarganya. Cakap menyeimbangkan keluarga dan kerja, lembur dan libur.

Bukan hanya itu saja, James Fowler menegaskan, mereka yang dibesarkan dengan kasih sayang akan lebih tumbuh kuat dalam iman di masa dewasanya. Lewat keluarga, kita merasakan kebutuhan dasar manusia seperti kehadiran, penerimaan, pengampunan, kenyamanan dan kecukupan secara emosi.

‘Kembali Pada Keluarga’ menjadi tema LK3 Network sepanjang tahun 2026. Meski kita tahu prinsip di atas, sungguh tak mudah memberi prioritas dan fokus pada keluarga. Kebutuhan materi, aktualisasi diri dan kesibukan kerja memecah konsentrasi dan fokus kita. Keluarga menjadi tidak lagi prioritas.

Saat pulang kerja kita sudah kehilangan energi, tenaga, semangat dan sukacita. Tersisa 5% energi saat bertemu anak dan keluarga. Tanpa sadar di rumah kita lebih banyak ingin istirahat saja, menyendiri atau mudah terpancing marah. Di kantor kita baik-baik, di rumah yang ada konflik. Selain kesibukan kendala utama bertumbuh dalam keluarga yang sehat adalah minimnya keterampilan dan pengetahuan tentang keluarga, kepriaan dan kewanitaan. Miskinnya contoh atau teladan dari keluarga asal kita, bagaimana menjadi orangtua dan pasangan yang baik.

6 Alasan Kembali pada Keluarga

Ada enam alasan kenapa kita perlu kembali sejenak kepada keluarga:

  1. Pertama, dengan kehadiran kita  dalam keluarga merawat relasi akan membuat pasangan dan anak merasa dicintai dan bermakna. Merasa aman dan kuat menghadapi tantangan hidup.

  2. Kedua, kalau keluarga tidak dirawat secara sadar, akan terjadi kerusakan. Baik dalam hubungan, komunikasi maupun perasaan. Sekali rusak susah memperbaikinya. Bahkan kerusakan itu bisa diwariskan kepada anak cucu turun temurun.

  3. Ketiga, keluarga itu tempat anak belajar tentang nilai, tujuan keluarga, tradisi, teladan hidup dan apa artinya berjuang. Keluarga menjadi sarana anak belajar tentang keluarga yang sehat dan berfungsi. Keluarga seperti sekolah, orangtua menjadi guru dan buku yang dibaca anak-anak.

  4. Empat, keluarga menjadi tempat menjalankan fungsi sebagai ayah dan Ibu. Semua jabatan lain termasuk presiden, ada yang bisa menggantikan. Tapi menjadi orang tua dan menjadi istri atau suami bagi pasangan bukan hanya istimewa tapi juga tak tergantikan. 

  5. Kelima, keluarga yang sehat menjadi tempat atau sarana pemulihan dari trauma, luka emosi dan masa lalu yang buruk. Keluarga atau Perkawinan yang sehat bisa memulihkan masa lalu yang buruk.

  6. Keenam, keluarga yang hangat juga meminimalkan risiko dari berbagai tekanan kehidupan. Jika rumah kita nyaman, semua keluarga akan betah dan selalu merindukan rumah. Di rumah, kepenatan sepanjang hari akan terobati. Keintiman keluarga akan menurunkan stres. Bukan hanya itu saja, keluarga yang hangat dan saling peduli meningkatkan motivasi dalam bekerja. Meningkatkan kreatifitas dan produktifitas. 

Akhirnya, saat kita tua, sakit dan sekarat, hanya pasangan dan anak yang dekat menjaga dan menemani kita. Merekalah menjadi teman dalam  perjalanan kita menua sampai meninggal dunia.

Inilah beberapa alasan manfaat kita selalu ingat keluarga, merawat dan memperhatikan kebutuhannya. Maka saat kita bekerja, bekerjalah dengan fokus sekuat tenaga kita. Saat kita kembali di rumah, cintailah keluarga sekuat batin kita. 

#KembaliPadaKeluarga, Selamat Tahun Baru 2026 dari kami dan Lembaga Konseling Keluarga Kreatif (LK3).

Dr. Julianto Simanjuntak, Konselor 

Chairman LK3 Network

Next
Next

Mengapa Kita Perlu Belajar Konseling ?